Sebagai suatu gerakan sosial, gerakan Bike 2 Work harus menjawab permasalahan yang timbul dalam sosialisasi gerakan tersebut. Selain permasalahan fisik, polusi dan keamanan di jalan, masalah lain adalah sepeda itu sendiri sebagai alat transportasi. Image sepeda hobi yang relatif mahal, bahkan setara dengan harga sebuah kendaraan bermotor, toh masih melekat pada image sepeda yang digunakan gerakan Bike 2 Work. Inilah salah satu di antara yang menjadi halangan sosialisasi gerakan Bike 2 Work. Penggunaan sepeda sebagai alat transportasi menjadi sebuah alternatif di kota besar. Beberapa pengguna sepeda Jakarta mendeklarasikan gerakan Bike 2 Work pada tanggal 4 September 2004. Dalam kurun waktu tiga tahun, pada saat artikel ini ditulis keanggotaan Bike 2 Work mencapai sekitar sepuluh ribu orang dari 14 kota di seluruh Indonesia.
Gerakan Bike 2 Work dideklarasikan oleh orang-orang yang sebelumnya menggunakan sepeda sebagai alat olahraga dan penyaluran hobi. Sebagai alat hobi, sepeda tersebut mempunyai spesifikasi yang cukup tinggi dan tidak banyak digunakan pada kegiatan bersepeda sehari-hari. Dalam melakoni hobi sebuah sepeda gunung mampu digunakan dalam sebuah perjalanan sepanjang 100 kilometer, di medan kasar berbatu, dalam kecepatan lebih tinggi dari kendaraan bermotor di medan turunan. Dalam kata lain sebuah mobil kompetisi reli dalam format sepeda.
Di sisi lain, kegiatan sepeda sehari-hari sebenarnya tidak membutuhkan spesifikasi setinggi itu. Seperti halnya alat transportasi lain, hal yang terpenting dari sepeda untuk keperluan sehari-hari adalah tidak menimbulkan masalah dalam perjalanan. Lintasan yang dilalui oleh kebanyakan Bike 2 Worker adalah jalan aspal dengan kecepatan sedang. Beberapa daerah bahkan tidak mempunyai lintasan tanjakan sehingga sepeda yang digunakan tidak diharuskan memiliki mekanisme pemindah gigi.
Seiring dengan naik turunnya kegiatan hobi bersepeda, mungkin yang harus Anda lakukan adalah melihat lagi ke garasi Anda. Sebuah sepeda yang telah ditutupi debu, berkarat dan dimakan usia mungkin akan menjadi alat transportasi yang tepat dengan sedikit perawatan. Penggantian kabel, pencucian, penyetelan dan pelumasan dapat mengembalikan sepeda Anda ke kondisi optimalnya.
Jika Anda tidak mampu melakukannya, bengkel sepeda mungkin menjadi suatu sudut yang terlupakan yang mampu menolong Anda. Dari mulai perawatan seperti yang disebutkan di atas, bengkel sepeda juga dapat merakitkan sepeda yang tepat untuk kegiatan Anda.
Bengkel sepeda yang baik akan menjual sepeda atau komponen yang tepat dan bukan mendorong Anda untuk membeli hal-hal yang tidak Anda perlukan. Seperti halnya kendaraan bermotor, seorang konsumen yang puas akan kembali lagi untuk membelanjakan uangnya pada komponen perawatan sepeda.
Selain bengkel sepeda, pabrikan sepeda dapat pula berperan dengan menyediakan sepeda yang tepat untuk kegiatan Bike 2 Work. Sebuah pabrikan sepeda lokal telah merilis sepeda edisi Bike 2 Work dengan harga setara dengan sebuah telpon genggam kelas menengah. Sebelumnya di luar negeri, sebuah pabrikan telah mendonasikan sepeda yang dibuat khusus untuk penggunaan di Afrika dengan memperhitungkan penggunaan dan kemampuan mereka. Ada baiknya pabrikan sepeda membuat beberapa spesifikasi sepeda yang disesuaikan dengan lokasi penggunaannya sehingga menjadikan sepeda tersebut lebih terjangkau tanpa meninggalkan kualitasnya.
Kegiatan bersepeda menuju kantor memang relatif lebih murah daripada moda transportasi lainnya. Demikian pula seharusnya dengan sepeda sebagai alatnya. Penggunaan sepeda yang mahal, seperti halnya dengan penggunaan mobil mewah bukanlah hal yang diharamkan, tetapi sebenarnya kegiatan Bike 2 Work tidak memerlukan hal itu. Seperti halnya motto dari sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa di sebuah Universitas di Bandung, “Tidak punya sepeda tidak mengapa, dukung sepeda mengapa tidak?”, yang dalam hal ini menjadi “Tidak punya sepeda mahal tidak mengapa, Bike 2 Work mengapa tidak?”