Between Red, Black, Mud and Speed

Gustar's posts with tag: daluang

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag daluang
Photo AlbumNgabuburit bersama Mahanagari (3 photos)Oct 26, '07 11:28 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Ngabuburit di Dago bersama Mahanagari

Blog EntryHarus ada tempat untuk semuaOct 22, '07 3:05 AM
for everyone

"Peso pangot ninggang lontar, daluang katinggang mangsi, sugan bae katuliskeun."

Sebuah pantun cinta dari tanah Sunda ini menyuratkan budaya tulis tradisional. Penggunaan lontar dan daluang sebagai media tulis memungkinkan kita untuk mengetahui lebih banyak tentang kehidupan di zaman dahulu. Kekayaan budaya tulis nenek moyang kita memang patut dibanggakan. Di saat kekayaan sendiri terlewatkan, sementara di sisi lain saat kita mengiblatkan diri ke kekayaan milik oleh bangsa lain.

Industrialisasi memang memudahkan kita untuk mendapatkan semua yang dibutuhkan. Barang kebutuhan sehari-hari diproduksi dengan jumlah berkelebihan setiap harinya. Konsumerisme dilayani dengan baik oleh perubahan trend dan kebutuhan yang dibuat-buat. Demikian pula dengan media tulis. Penggunaan kertas yang berlebihan menyebabkan kertas diproduksi dalam jumlah yang banyak sehingga mengakibatkan permasalahan sampah dan limbah kimia.

Salah satu warisan nenek moyang kita adalah penggunaan pohon saeh (Broussonetia papyfera vent) sebagai media tulis kertas daluang. Penggunaan kertas daluang itu bahkan dapat menembus batas ke beberapa aplikasi kain (fabric), sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh kertas hasil industrialisasi.

Dengan Mahanagari, sebuah creative house di Bandung, sebagai organisator acara, saya dapat menikmati jasa seorang guide senior di Bandung, Opa Felix dalam kunjugan saya ke Kampung Tanggulan. Di kampung yang terletak di Dago Pojok, berjarak sekitar 10 menit berjalan kaki dari Taman Budaya Jawa Barat (Dago Thee Huis) terdapat workshop milik seorang seniman Bandung, Kang Mufid.

Di sana saya dapat melihat proses pengerjaan pembuatan kertas Daluang. Berbeda dengan cara pembuatan kertas dengan dibuat bubur (pulp) yang saya tahu, pembuatan kertas Daluang ini adalah dengan cara dipukul dengan pameupeuh (alat pemukul khusus). Pemukulan ini juga dilakukan dalam beberapa lapisan, seperti halnya seorang empu membentuk lapisan tempa pada sebuah keris. Salah satu hasil dari langkah ini adalah tertutupnya cacat pada kulit kayu seperti halnya pada percabangan.

Sebelum dilakukan pemukulan, batang kayu saeh yang telah dikuliti direndam selama beberapa hari, umumnya sekitar 5 hari, tergantung dari kualitas kertas yang diinginkan. Ini dilakukan untuk melunakkan serat kayu saeh.

Setelah dilakukan pemukulan, cara pengeringan kertas daluang pun unik

Proses produksi kertas daluang tidak mencemari lingkungan. Ini terjadi karena cara pembuatan seperti yang dipaparkan di atas tidak menggunakan bahan kimia sama sekali.

Kertas Daluang ini tidak bersifat asam, seperti halnya kertas yang terbuat dari pulp kayu. Hal ini menjelaskan mengapa sebuah artefak Daluang tertua yang ditemukan di Cariu yang berasal dari abad ke 3 SM masih dapat terbaca hingga saat ini. Salah satu kunci dari awetnya tulisan tersebut adalah matangnya proses pembuatan kertas, yang ditandai dengan tidak adanya getah yang tersisa di kertas Daluang.

Salah satu keunggulan dari kertas Daluang ini adalah kekuatannya yang cukup tinggi hingga bisa digunakan untuk beberapa aplikasi yang biasanya menggunakan kain. Beberapa daerah di Indonesia menggunakan Daluang sebagai bahan untuk ikat kepala, selendang, dan beberapa jenis pakaian lainnya. Kertas daluang pun dapat digunakan untuk beberapa aksesori interior seperti lampion, sekat, gordyn, dan lain-lain.

Saat ini, daerah terbesar pembuat kertas Daluang di Jawa Barat adalah di Garut. (Cari daerahnya) Di daerah tersebut proses pembuatan kertas daluang diwariskan secara turun temurun. Walaupun penggunaan kertas daluang tergeser oleh kertas hasil industri, namun para pengrajin tersebut masih membuat kertas daluang.

Salah satu alasan kurang luasnya penggunaan kertas Daluang disebabkan oleh lamanya proses pembuatan, sehingga produksinya belum dapat mencapai skala keekonomian.

Walaupun teknik pembuatan kertas massal sudah baku, teknik pembuatan kertas daluang dengan menggunakan pameupeuh sudah selayaknya untuk dilestarikan. Saat ini kendala tidak dimungkinkannya mesin industri untuk melakukan proses produksi tersebut adalah dikarenakan penilaian visual manusia masih diperlukan untuk menghasilkan kertas daluang yang baik, dengan cacat yang minimal dan lebar kertas yang maksimal.

Walau begitu, bukan tidak mungkin dengan kemajuan teknologi baru, teknik pembuatan daluang diaplikasikan untuk aplikasi lain. Kekayaan warisan nenek moyang berupa proses pembuatan kertas ini harus dipelihara. Setidaknya hal ini membuka pikiran kita bahwa “Ada Banyak Jalan ke Roma”, demikian pula “Ada Banyak Cara Membuat Kertas”.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help