Between Red, Black, Mud and Speed

Gustar's posts with tag: burgerkill

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag burgerkill
Blog EntryBurgerkill Dicekal di JakartaFeb 20, '08 9:24 PM
for everyone
Link
Inilah reaksi aparat terhadap keterbatasan dari komunitas yang sedang dirundung duka. Sebuah komunitas yang patut dijadikan contoh dengan mengatasi berbagai keterbatasan.

Bermula dari tahun 1990-an, saat saya masih sekolah di SMA.Saat itu ada satu radio rock di Bandung. Dari situ mulailah saya hobi nonton gig.

Saya sendiri sudah gak banyak involve di komunitas ini, sudah gak banyak dateng ke gig sejak saparua ditutup. Sudah gak punya sakit leher tiap senin karena kebanyakan head banging (istilah ini masih ada gak sih?). Tapi yang saya alamin, saat SMP, waktu nonton Sepultura jaman SMP dulu, cuma modal ongkos bis sekedarnya, berangkat ke Jakarta, gak tau Lebak Bulus di mana, akhirnya naik angkot yang gak tau kemana dari Cililitan. Di jalan ketemu sesama, eh akhirnya angkot yang saya tumpangi mereka carterkan (bayar lho... gak kayak suporter b**a) akhirnya sampe deh ke Lebak Bulus.

Yang saya lihat dari komunitas ini. Kalau mau dibilang ini contoh baik dari budaya barat ya bisa. Dari mulai zine yang beredar terbatas (dibatasi oleh kawawuhan he he), DIY album, start starting small, pertemanan. Urusan sangar, musik keras, dll. ya itu bajunya doang ternyata. Jadi tolong, buat rekan-rekan (atau bapak-bapak, buat kalian yang gila hormat) yang mau ngejudge terhadap komunitas ini, be involve di komunitas ini.

Dari dulu, sekarang juga gak banyak berubah, fanzine makin marak, apa lagi dengan kehadiran internet. Permasalahan yang ada di AACC kemarin juga salah satu indikasi. Bagaimana dengan sumber daya yang terbatas (dana promosi yang kurang, dll.) toh tidak mencegah membludagnya penonton gig. Dari sini bisa ditarik, bahwa walaupun dengan dukungan yang kurang (bahkan hambatan yang dibuat-buat), toh komunitas ini tidak lantas mati.

Saat ini, komunitas ini tidak membebani pemerintah (yang berarti membebani rakyat juga). Tidak perlu kucuran APBD untuk mendukung sebuah band yang akan perform di luar negeri, seperti halnya klub b**a yang mengancam bubar jika tidak dapat kucuran dana APBD, yang dananya justru digunakan untuk membayar pemain asing dengan kualitas yang sama dengan pemain bangsa urang.

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help