Between Red, Black, Mud and Speed

Gustar's posts with tag: budaya

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag budaya
VideoSasando at JCCJun 12, '08 2:16 PM
for everyone
Akhirnya bisa denger juga nih Sasando, dari NTT.


Sasando.MOV (8.0 MB)

Start:     May 26, '08 7:30p
Location:     Ultimus, Jl. Lengkong Besar Bandung
Acara tidak dalam bentuk diskusi melainkan berupa berbagai penyajian pertunjukan yang bertemakan dan bersumber dari buku kumpulan puisi “Jelita Senandung Hidup”, seperti pembacaan puisi, musik perkusi, dramatisasi puisi, dan lain-lain. Para penonton disediakan penganan kecil dan minuman hangat.

Pendukung acara:

1. Besti Rahulasmoro
2. Bojes
3. Deni Maung
4. Desti
5. Dian Hardiana
6. Dian Hartati
7. Evi SR
8. Ferry
9. Iwan
10. Kerensa Dewantoro
11. Matdon
12. Mira Dewi Kania
13. Rahmat Jabaril
14. Sang Denai
15. Semi Ikranegara
16. Seli “Cey”
17. Stoe Percussion
18. Udung
19. Widzar Al-giffary
20. Yopie Setia Umbara
21. Yunis Kartika

Acara ini atas kerjasama: Lembaga Sastra Pembebasan, Ultimus Bandung, dan Evi SR.

Photo AlbumPhoto Album 2008-05-17 (14 photos)May 17, '08 10:38 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Photo Around Garuda Wisnu Kencana. taken during the XC Race, I decided to look around

Kemarin adalah kali pertama Hari Bumi berjalan tanpa ada tulisan dari pak Otto Soemarwoto. Sang Begawan lingkungan memang telah berpulang awal bulan ini.

Saya penasaran apa yang pak Otto tulis jika beliau berkesempatan untuk berada di antara kita kemarin. Tulisan beliau tentang pengurangan kerusakan dengan cara mengurangi penggunaan AC, kendaraan bermotor, dan memperbanyak transportasi tanpa polusi (jalan kaki dan bersepeda) secara rutin menghiasi koran lokal pada hari bumi setiap tahunnya.

Saya menghabiskan hari bumi kemarin bersama Lingkarhijau, melakukan kampanye ramah bumi (entah kenapa saya lebih suka frasa ini daripada Ramli alias Ramah Lingkungan). Bersama dengan sejuknya udara Bandung di sore hari, thermometer Cikapayang menunjukkan angka 22°C saat itu. Taman eks Pom Bensin Cikapayang sudah penuh oleh rekan-rekan Lingkarhijau. Mereka melakukan orasi di pembatas jalan Dago, sementara beberapa lainnya melakukan performing art.

Ada yang hilang dari aksi tersebut. Aksi tersebut dilakukan di antara beratus kendaraan yang lalu lalang di daerah tersebut. Pada aksi tersebut dilakukan pembagian bibit kepada para pengendara mobil yang berhenti saat lampu stopan menyala merah. Bibit tanaman merupakan simbol dari keinginan untuk memperbaiki keadaan. Yah, memperbaiki bumi yang sudah tidak seimbang ini.

Ironis jika aksi perbaikan bumi itu tidak diikuti dengan aksi promosi pengurangan kerusakan (damage limitation), mematikan mesin kendaraan di saat berhenti di lampu merah lebih mudah dilaksanakan oleh orang kebanyakan. Orang-orang yang mungkin hanya sempat untuk beristirahat di saat diri mereka ada di rumah. Mereka mungkin kekurangan waktu untuk sekedar menanam pohon, atau bahkan tidak mampu untuk menanam pohon. Beberapa dari mereka tidak punya lahan akibat hidup mereka sendiri masih membayar kepada sang ibu kost untuk sekedar tinggal.

Imbauan untuk mematikan mesin sejenak mungkin masih dapat mereka lakukan dengan mudah di tengah himpitan tuntutan hidup. Pembatasan penggunaan kendaraan bermotor memang masih utopis dengan tingkat kesibukan manusia Bandung dan minim (dan mahal)nya fasilitas transportasi umum. Setidaknya pemborosan bahan bakar dan produksi karbon dioksida dapat dikurangi dengan imbauan mematikan mesin di saat lampu merah, temporer memang, tapi itu satu langkah maju.



Photo AlbumPerempuan Menuntut Malam (13 photos)Apr 4, '08 5:19 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Foto dari pertunjukan teater Perempuan Menuntut Malam, Jumat 28 Maret 2008

EventNonton Bioscoop di Bandoeng BaheulaApr 2, '08 5:18 AM
for everyone
Start:     Apr 3, '08 6:15p
End:     Apr 3, '08 7:15p
Location:     Onion Square, Cihampelas Walk
Obrolan ringan tentang sejarah bioskop di Bandung
bersama teman-teman Klab Aleut.
Sebelum acara, ada pula nonton bareng gambar idoep (film bisu).
Yang diputar tak lain salah satu film dahsyat dari salah satu three big comedian...
(silakan pilih dan tebak: Harold Lloyd, Charlie Chaplin, atau Buster Keaton?)

Ajang ini tak lain merupakan sebuah talkshow dari rangkaian kegiatan Tatar Ukur Parahyangan yang diadakan Ciwalk.

Blog Entry0:22 Holiday in CambodiaMar 30, '08 1:30 PM
for everyone

Sebuah niat untuk bikin kopi yang tak kunjung terwujud.

Dinginnya malam dengan hamparan es di rumahku dan bocornya genteng hasil hujan tadi sore.

Dead Kennedy berkoar sebuah repertoir "Holiday in Cambodia"

Dan aku terlarut dalam trans


Blog EntryCommuting 101: Pelajari "kampung" lokal AndaMar 12, '08 4:50 AM
for everyone
7 Maret 2008 oleh Noah

Secara pribadi saya pikir bike commuting lebih dari sekedar dari dan ke tempat kerja sehari-hari. Tetapi tentang bersepeda untuk transportasi secara luas. Beberapa waktu yang lalu, Warren mengenalkan kami pada ClifBar 2 Mile Challenge. Untuk kita yang tinggal di pinggiran kota dan dalam proses untuk mengurangi penggunaan mobil sebagai komuter sepeda baru (seperti saya), godaan untuk mengendarai mobil ke tempat yang biasa dikunjungi sangat menggoda, karena tempat itulah yang ingin dituju, dan tempat itu terlalu jauh atau tidak praktis untuk dikunjungi dengan sepeda. Seringnya, ada tempat yang serupa dekat dengan rumah yang belum Anda ketahui. Atau, jika sudah, sebagai kebiasaan tempat itu terlewatkan.

Saya hanya menggunakan contoh pribadi di hidup saya, tapi saya yakin hal sama juga terjadi di banyak komuter sepeda yang bar. Sebagai ganti mengendarai mobil ke tempat saya potong rambut (sekitar 13 kilometer dari rumah), saya mencoba beberapa tukang potong rambut yang lebih dekat. Sebagai ganti belanja di toko yang besar dengan merk-merk terkenal di jajaran barang yang dijualnya, saya mencoba berbelanja di mini market dekat rumah. Bar yang sering saya datangi cukup jauh, tetapi ada bar lokal yang hanya berjarak beberapa perempatan. Dokter langganan saya berjarak 25 kilometer dari rumah, tapi kliniknya punya cabang yang berbagi lahan parkir dengan apartemen saya. Saya harus pindah dokter, tapi saya bisa berjalan kaki ke tempat dokter.

Sehari-hari, saya berkendara melalui beberapa kompleks ruko. Ruko-ruko itu sangat banyak di pinggiran kota Kansas City, tersebar di jarak 2 atau 3 kilometer. Cobalah untuk bersepeda ke sana dan melihat toko apa saja yang dekat dengan rumah. Hampir semua yang saya butuhkan atau inginkan ada dalam radius tiga kilometer: Dokter gigi, kantor pos, cabang dari bank, dokter, restoran, toko serba ada, coffee shop, elektronik dan toko pakaian, bahkan sebuah toko diskon besar.

Mempelajari "kampung" lokal adalah langkah besar untuk menggunakan sepeda lebih dan mengurangi penggunaan mobil. Hal itu juga memungkinkan Anda untuk mampir saat pergi atau pulang ke tempat kerja untuk melakukan sesuat, menghemat waktu karena toh Anda sudah di luar. Anda tidak harus meninggalkan hal-hal yang sepertinya terlalu jauh untuk bersepeda. Anda mungkin menemukan hal yang sama di sekitar rumah yang memenuhi kebutuhan Anda.

diambil dari http://commutebybike.com/2008/03/07/commuting-101-learn-your-local-village/

ddd
dThumbnaild
ddd
Setelah ngeboseh di awal Maret 2008. saya mampir ke Paris van Java buat lihat launching buku "Wajah Bandung Tempo Doeloe". Cuma di sana sampai jam 3 sore.


Blog EntryBurgerkill Dicekal di JakartaFeb 20, '08 9:24 PM
for everyone
Link
Inilah reaksi aparat terhadap keterbatasan dari komunitas yang sedang dirundung duka. Sebuah komunitas yang patut dijadikan contoh dengan mengatasi berbagai keterbatasan.

Bermula dari tahun 1990-an, saat saya masih sekolah di SMA.Saat itu ada satu radio rock di Bandung. Dari situ mulailah saya hobi nonton gig.

Saya sendiri sudah gak banyak involve di komunitas ini, sudah gak banyak dateng ke gig sejak saparua ditutup. Sudah gak punya sakit leher tiap senin karena kebanyakan head banging (istilah ini masih ada gak sih?). Tapi yang saya alamin, saat SMP, waktu nonton Sepultura jaman SMP dulu, cuma modal ongkos bis sekedarnya, berangkat ke Jakarta, gak tau Lebak Bulus di mana, akhirnya naik angkot yang gak tau kemana dari Cililitan. Di jalan ketemu sesama, eh akhirnya angkot yang saya tumpangi mereka carterkan (bayar lho... gak kayak suporter b**a) akhirnya sampe deh ke Lebak Bulus.

Yang saya lihat dari komunitas ini. Kalau mau dibilang ini contoh baik dari budaya barat ya bisa. Dari mulai zine yang beredar terbatas (dibatasi oleh kawawuhan he he), DIY album, start starting small, pertemanan. Urusan sangar, musik keras, dll. ya itu bajunya doang ternyata. Jadi tolong, buat rekan-rekan (atau bapak-bapak, buat kalian yang gila hormat) yang mau ngejudge terhadap komunitas ini, be involve di komunitas ini.

Dari dulu, sekarang juga gak banyak berubah, fanzine makin marak, apa lagi dengan kehadiran internet. Permasalahan yang ada di AACC kemarin juga salah satu indikasi. Bagaimana dengan sumber daya yang terbatas (dana promosi yang kurang, dll.) toh tidak mencegah membludagnya penonton gig. Dari sini bisa ditarik, bahwa walaupun dengan dukungan yang kurang (bahkan hambatan yang dibuat-buat), toh komunitas ini tidak lantas mati.

Saat ini, komunitas ini tidak membebani pemerintah (yang berarti membebani rakyat juga). Tidak perlu kucuran APBD untuk mendukung sebuah band yang akan perform di luar negeri, seperti halnya klub b**a yang mengancam bubar jika tidak dapat kucuran dana APBD, yang dananya justru digunakan untuk membayar pemain asing dengan kualitas yang sama dengan pemain bangsa urang.

Link: http://copenhagengirlsonbikes.blogspot.com/

Photo blog tentang kota yang ramah sepeda

MusicPure SaturdayDec 12, '07 12:59 AM
for everyone
Buka Elora Pure Saturday 
Spoken Time For A Change - Time To Move On Pure Saturday 
Buka Elora Pure Saturday 
Elora Elora Pure Saturday 

Beberapa waktu yang lalu berkat keajaiban teknologi saya mengobrol tertulis dengan teman saya via sms (gak sadar yah kalau itu ajaib). Ia bercerita tentang liburannya di Yogya. Bertukar kenangan tentang pengalaman kami.

Saat itu, saya cerita tentang esensi pengalaman saya dari hidup di Yogya adalah untuk menikmati hidup tanpa terburu-buru. Hidup di Yogya untuk saya adalah tentang hal-hal kecil seperti berjalan perlahan dari stasiun KA ke Malioboro, menikmati setiap injakan sepatu saya ke paving block yang dalam beberapa jam ke depan akan penuh diisi dengan pedagang dan turis-turis lokal yang merasa perlu mengabadikan kunjungan mereka dalam bentuk cindera mata.

Kadang ada saat saya terbawa dengan kehidupan nyata saya, penyesalan dari kunjungan terakhir yang tidak sabaran dan naik taxi ke tempat kunjungan saya berikutnya. Sekarang saya ingin menunggu matahari terbit di Malioboro dan menikmati sepinya jalan itu, menjadi satu dengan sisi lain siklus hidup jalan yang terkenal itu.

Menurut saya Yogya adalah, dibangunkan matahari kemudian menikmati dinginnya air mandi di Kaliurang. Matahari pagi di Gardu Pandang. Kemudian berangkat ke Yogya dengan angkutan umum. Waktu seakan berhenti di sini, jangan rusak liburan dengan memakai jam tangan atau penunjuk waktu lainnya, simpan semua di tempat yang aman.

Ada yang bisa saya ceritakan tentang angkutan umum dari Kaliurang-Yogya. Angkutan yang digunakan kebanyakan berupa mini bus sedang sekelas Mitsubishi Colt Diesel atau Isuzu ELF ini. Entah karena memang saya tidak mood terburu-buru atau memang sang sopir ini punya cara tersendiri. Yang jelas perjalanan dari Kaliurang hingga Kota Yogya ini memang sangat santai, kontras dengan angkutan umum yang beredar di kota Bandung. Di KM 18 saya pindah angkutan, di terminal kecil dekat Polres itu saya merasa benar-benar liburan di Yogya. Bahkan di terminal, yang di kota lain terasa sumpek dan membuat kita terburu-buru di Yogya ini dapat kunikmati kopi dengan tenang, mengobrol sedikit dengan penumpang lainnya dan sopir-sopir yang bertukar cerita.

Sayangnya di tempat itu liburanku berakhir, karena selanjutnya saya melakukan survei untuk kegiatan lain dan berkumpul bareng rekan kerja saya untuk menikmati liburan gaya Jakarta (lihat paragraf 2 di atas).

Saya ingin menulis tentang keseharian saya. Tentang kegiatan yang membuat saya sedikitnya dapat menikmati hidup.

Ya, itulah Yogya, sesuatu yang mungkin sudah biasa untuk orang yang sehari-harinya hidup di Yogya, yang menarik buat saya. Itu pula yang menginspirasi saya untuk menulis tentang keseharian saya.

berikutnya >> cerita tentang pasar di pinggir sungai kota Bandung


EventSWINGING FRIENDSOct 29, '07 4:06 AM
for everyone
Start:     Oct 31, '07 6:00p
SWINGING FRIENDS
Launching Mocca Friends, Mocca Official Fans Club


Wednesday, October 31, 2007
6 PM Sharp!
Free Entry
Aru Studio, Jl. Riau 189, Bandung

Performances:
- Mocca
- New Ride

Mocca’s Rehearsal Show Video Premier
Mocca’s Official Fans Club Registration

The show is also an introduction of Mocca’s Secret Show series that will starts on January 2008

Please spread the news.
Don’t miss the show.

Cheers!

Mocca’s latest album, Colours, is available now on cd and cassette from FFWD Records
Get it now!

Photo AlbumNgabuburit bersama Mahanagari (3 photos)Oct 26, '07 11:28 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Ngabuburit di Dago bersama Mahanagari

Blog EntryHarus ada tempat untuk semuaOct 22, '07 3:05 AM
for everyone

"Peso pangot ninggang lontar, daluang katinggang mangsi, sugan bae katuliskeun."

Sebuah pantun cinta dari tanah Sunda ini menyuratkan budaya tulis tradisional. Penggunaan lontar dan daluang sebagai media tulis memungkinkan kita untuk mengetahui lebih banyak tentang kehidupan di zaman dahulu. Kekayaan budaya tulis nenek moyang kita memang patut dibanggakan. Di saat kekayaan sendiri terlewatkan, sementara di sisi lain saat kita mengiblatkan diri ke kekayaan milik oleh bangsa lain.

Industrialisasi memang memudahkan kita untuk mendapatkan semua yang dibutuhkan. Barang kebutuhan sehari-hari diproduksi dengan jumlah berkelebihan setiap harinya. Konsumerisme dilayani dengan baik oleh perubahan trend dan kebutuhan yang dibuat-buat. Demikian pula dengan media tulis. Penggunaan kertas yang berlebihan menyebabkan kertas diproduksi dalam jumlah yang banyak sehingga mengakibatkan permasalahan sampah dan limbah kimia.

Salah satu warisan nenek moyang kita adalah penggunaan pohon saeh (Broussonetia papyfera vent) sebagai media tulis kertas daluang. Penggunaan kertas daluang itu bahkan dapat menembus batas ke beberapa aplikasi kain (fabric), sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh kertas hasil industrialisasi.

Dengan Mahanagari, sebuah creative house di Bandung, sebagai organisator acara, saya dapat menikmati jasa seorang guide senior di Bandung, Opa Felix dalam kunjugan saya ke Kampung Tanggulan. Di kampung yang terletak di Dago Pojok, berjarak sekitar 10 menit berjalan kaki dari Taman Budaya Jawa Barat (Dago Thee Huis) terdapat workshop milik seorang seniman Bandung, Kang Mufid.

Di sana saya dapat melihat proses pengerjaan pembuatan kertas Daluang. Berbeda dengan cara pembuatan kertas dengan dibuat bubur (pulp) yang saya tahu, pembuatan kertas Daluang ini adalah dengan cara dipukul dengan pameupeuh (alat pemukul khusus). Pemukulan ini juga dilakukan dalam beberapa lapisan, seperti halnya seorang empu membentuk lapisan tempa pada sebuah keris. Salah satu hasil dari langkah ini adalah tertutupnya cacat pada kulit kayu seperti halnya pada percabangan.

Sebelum dilakukan pemukulan, batang kayu saeh yang telah dikuliti direndam selama beberapa hari, umumnya sekitar 5 hari, tergantung dari kualitas kertas yang diinginkan. Ini dilakukan untuk melunakkan serat kayu saeh.

Setelah dilakukan pemukulan, cara pengeringan kertas daluang pun unik

Proses produksi kertas daluang tidak mencemari lingkungan. Ini terjadi karena cara pembuatan seperti yang dipaparkan di atas tidak menggunakan bahan kimia sama sekali.

Kertas Daluang ini tidak bersifat asam, seperti halnya kertas yang terbuat dari pulp kayu. Hal ini menjelaskan mengapa sebuah artefak Daluang tertua yang ditemukan di Cariu yang berasal dari abad ke 3 SM masih dapat terbaca hingga saat ini. Salah satu kunci dari awetnya tulisan tersebut adalah matangnya proses pembuatan kertas, yang ditandai dengan tidak adanya getah yang tersisa di kertas Daluang.

Salah satu keunggulan dari kertas Daluang ini adalah kekuatannya yang cukup tinggi hingga bisa digunakan untuk beberapa aplikasi yang biasanya menggunakan kain. Beberapa daerah di Indonesia menggunakan Daluang sebagai bahan untuk ikat kepala, selendang, dan beberapa jenis pakaian lainnya. Kertas daluang pun dapat digunakan untuk beberapa aksesori interior seperti lampion, sekat, gordyn, dan lain-lain.

Saat ini, daerah terbesar pembuat kertas Daluang di Jawa Barat adalah di Garut. (Cari daerahnya) Di daerah tersebut proses pembuatan kertas daluang diwariskan secara turun temurun. Walaupun penggunaan kertas daluang tergeser oleh kertas hasil industri, namun para pengrajin tersebut masih membuat kertas daluang.

Salah satu alasan kurang luasnya penggunaan kertas Daluang disebabkan oleh lamanya proses pembuatan, sehingga produksinya belum dapat mencapai skala keekonomian.

Walaupun teknik pembuatan kertas massal sudah baku, teknik pembuatan kertas daluang dengan menggunakan pameupeuh sudah selayaknya untuk dilestarikan. Saat ini kendala tidak dimungkinkannya mesin industri untuk melakukan proses produksi tersebut adalah dikarenakan penilaian visual manusia masih diperlukan untuk menghasilkan kertas daluang yang baik, dengan cacat yang minimal dan lebar kertas yang maksimal.

Walau begitu, bukan tidak mungkin dengan kemajuan teknologi baru, teknik pembuatan daluang diaplikasikan untuk aplikasi lain. Kekayaan warisan nenek moyang berupa proses pembuatan kertas ini harus dipelihara. Setidaknya hal ini membuka pikiran kita bahwa “Ada Banyak Jalan ke Roma”, demikian pula “Ada Banyak Cara Membuat Kertas”.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help