Gustar's posts with tag: bike 2 work
| Start: | Jun 28, '08 3:00p | | Location: | Yogya, yang bukan karta, tapi kepatihan |
b2w mo sosialisasi di k-park jogja kepatihan, taman depan jogja kepatihan sebrang kings plasa hari sabtu jam 3an sore... hadir yaaa...
| Start: | May 24, '08 3:00p | | Location: | Taman Ganeca ITB, Bandung |
Penerbit Salamadani Bandung mengundang pembaca untuk menghadiri bedah buku Bicycling For Fun
|  | Photo event GWK Peek A Boo |
7 Maret 2008 oleh Noah Secara pribadi saya pikir bike commuting lebih dari sekedar dari dan ke tempat kerja sehari-hari. Tetapi tentang bersepeda untuk transportasi secara luas. Beberapa waktu yang lalu, Warren mengenalkan kami pada ClifBar 2 Mile Challenge. Untuk kita yang tinggal di pinggiran kota dan dalam proses untuk mengurangi penggunaan mobil sebagai komuter sepeda baru (seperti saya), godaan untuk mengendarai mobil ke tempat yang biasa dikunjungi sangat menggoda, karena tempat itulah yang ingin dituju, dan tempat itu terlalu jauh atau tidak praktis untuk dikunjungi dengan sepeda. Seringnya, ada tempat yang serupa dekat dengan rumah yang belum Anda ketahui. Atau, jika sudah, sebagai kebiasaan tempat itu terlewatkan. Saya hanya menggunakan contoh pribadi di hidup saya, tapi saya yakin hal sama juga terjadi di banyak komuter sepeda yang bar. Sebagai ganti mengendarai mobil ke tempat saya potong rambut (sekitar 13 kilometer dari rumah), saya mencoba beberapa tukang potong rambut yang lebih dekat. Sebagai ganti belanja di toko yang besar dengan merk-merk terkenal di jajaran barang yang dijualnya, saya mencoba berbelanja di mini market dekat rumah. Bar yang sering saya datangi cukup jauh, tetapi ada bar lokal yang hanya berjarak beberapa perempatan. Dokter langganan saya berjarak 25 kilometer dari rumah, tapi kliniknya punya cabang yang berbagi lahan parkir dengan apartemen saya. Saya harus pindah dokter, tapi saya bisa berjalan kaki ke tempat dokter. Sehari-hari, saya berkendara melalui beberapa kompleks ruko. Ruko-ruko itu sangat banyak di pinggiran kota Kansas City, tersebar di jarak 2 atau 3 kilometer. Cobalah untuk bersepeda ke sana dan melihat toko apa saja yang dekat dengan rumah. Hampir semua yang saya butuhkan atau inginkan ada dalam radius tiga kilometer: Dokter gigi, kantor pos, cabang dari bank, dokter, restoran, toko serba ada, coffee shop, elektronik dan toko pakaian, bahkan sebuah toko diskon besar. Mempelajari "kampung" lokal adalah langkah besar untuk menggunakan sepeda lebih dan mengurangi penggunaan mobil. Hal itu juga memungkinkan Anda untuk mampir saat pergi atau pulang ke tempat kerja untuk melakukan sesuat, menghemat waktu karena toh Anda sudah di luar. Anda tidak harus meninggalkan hal-hal yang sepertinya terlalu jauh untuk bersepeda. Anda mungkin menemukan hal yang sama di sekitar rumah yang memenuhi kebutuhan Anda. diambil dari http://commutebybike.com/2008/03/07/commuting-101-learn-your-local-village/
“Despite what were you thinking, bike industry is still an industry. People still make money on it and will succumb to the other industrialization principle.” Saat saya membalik halaman sebuah online sebuah alinea membuat saya tersadar akan realitas. Ya, industri sepeda memang sebuah industri. Suka atau tidak suka individu yang bergerak di dunia sepeda harus menjalani hidupnya dan membutuhkan biaya. Image sepeda adalah kendaraan alternatif yang murah dan berpihak ke rakyat kecil. Sebuah sepeda baru yang dapat diandalkan dapat diperoleh dengan harga 1/10 harga sepeda motor baru. Walaupun memang harga sepeda termahal sebanding dengan harga sebuah mobil bekas, toh image sepeda tetap sebagai alat transportasi murah, jika tidak karena pembeliannya, ya karena biaya operasionalnya yang murah. Seperti halnya industri lain, industri sepeda juga memiliki sub industri lain seperti bengkel perawatan sepeda, event organizer sepeda, aksesoris sepeda, bahkan usaha pakaian yang mengandalkan komunitas sepeda sebagai konsumen utamanya. Keunggulan sepeda sebagai kendaraan yang murah untuk dirawat juga menjadi kelemahan industri sepeda. Perawatan sepeda yang murah membuat sulit untuk orang-orang yang bergerak di industri sepeda untuk memperoleh pemasukan dari perawatan sepeda, seperti halnya industri pelumas pada otomotif. Sebagai contoh, jika sebuah sepeda motor digunakan sejauh 40 km sehari, maka dalam jangka waktu setengah tahun biaya bahan bakar yang dihabiskan berjumlah sama dengan harga sebuah sepeda yang dapat diandalkan, itupun belum menghitung biaya perawatan lainnya seperti pelumas, cuci motor, perizinan, dll. Untuk menghidupi kegiatan bersepeda diperlukan biaya yang diperoleh dari orang-orang yang mendapat manfaat dari dunia sepeda. Manfaat itu bisa berupa penyaluran hobi atau rekreasi, atau pengurangan pos biaya transportasi. Dikarenakan sifat sepeda yang minim biaya perawatan maka jalan lainnya adalah memasalkan pengguna sepeda sehingga terjadi hukum produksi, di mana produk yang dibuat masal menjadi lebih murah dalam biaya produksinya dibandingkan dengan produk yang dibuat terbatas. Dukungan industri dan pemasalan budaya sepeda memang seperti telur dan ayam. Industri sepeda akan berjalan jika banyak uang masuk ke industri tersebut. Uang akan datang jika pengguna sepeda bertambah banyak. Pengguna sepeda bertambah banyak jika industri sepeda mampu mendukung kegiatan bersepeda. Sebagai contoh mungkin bisa dibandingkan dengan industri otomotif (mobil dan motor), pabrikan otomotif berlomba-lomba mendukung kegiatan ber-otomotif sehingga image produk otomotif sebagai produk yang “keren” makin tertanam, bahkan untuk orang yang belum mampu memilikinya, minimal banyak orang punya mimpi untuk suatu saat punya sebuah motor atau mobil. Jadi, kapan masanya orang awam di Indonesia pingin punya mimpi untuk beli Santa Cruz, Pinarello, Bilenky, atau Seven?
Sebagai suatu gerakan sosial, gerakan Bike 2 Work harus menjawab permasalahan yang timbul dalam sosialisasi gerakan tersebut. Selain permasalahan fisik, polusi dan keamanan di jalan, masalah lain adalah sepeda itu sendiri sebagai alat transportasi. Image sepeda hobi yang relatif mahal, bahkan setara dengan harga sebuah kendaraan bermotor, toh masih melekat pada image sepeda yang digunakan gerakan Bike 2 Work. Inilah salah satu di antara yang menjadi halangan sosialisasi gerakan Bike 2 Work. Penggunaan sepeda sebagai alat transportasi menjadi sebuah alternatif di kota besar. Beberapa pengguna sepeda Jakarta mendeklarasikan gerakan Bike 2 Work pada tanggal 4 September 2004. Dalam kurun waktu tiga tahun, pada saat artikel ini ditulis keanggotaan Bike 2 Work mencapai sekitar sepuluh ribu orang dari 14 kota di seluruh Indonesia. Gerakan Bike 2 Work dideklarasikan oleh orang-orang yang sebelumnya menggunakan sepeda sebagai alat olahraga dan penyaluran hobi. Sebagai alat hobi, sepeda tersebut mempunyai spesifikasi yang cukup tinggi dan tidak banyak digunakan pada kegiatan bersepeda sehari-hari. Dalam melakoni hobi sebuah sepeda gunung mampu digunakan dalam sebuah perjalanan sepanjang 100 kilometer, di medan kasar berbatu, dalam kecepatan lebih tinggi dari kendaraan bermotor di medan turunan. Dalam kata lain sebuah mobil kompetisi reli dalam format sepeda. Di sisi lain, kegiatan sepeda sehari-hari sebenarnya tidak membutuhkan spesifikasi setinggi itu. Seperti halnya alat transportasi lain, hal yang terpenting dari sepeda untuk keperluan sehari-hari adalah tidak menimbulkan masalah dalam perjalanan. Lintasan yang dilalui oleh kebanyakan Bike 2 Worker adalah jalan aspal dengan kecepatan sedang. Beberapa daerah bahkan tidak mempunyai lintasan tanjakan sehingga sepeda yang digunakan tidak diharuskan memiliki mekanisme pemindah gigi. Seiring dengan naik turunnya kegiatan hobi bersepeda, mungkin yang harus Anda lakukan adalah melihat lagi ke garasi Anda. Sebuah sepeda yang telah ditutupi debu, berkarat dan dimakan usia mungkin akan menjadi alat transportasi yang tepat dengan sedikit perawatan. Penggantian kabel, pencucian, penyetelan dan pelumasan dapat mengembalikan sepeda Anda ke kondisi optimalnya. Jika Anda tidak mampu melakukannya, bengkel sepeda mungkin menjadi suatu sudut yang terlupakan yang mampu menolong Anda. Dari mulai perawatan seperti yang disebutkan di atas, bengkel sepeda juga dapat merakitkan sepeda yang tepat untuk kegiatan Anda. Bengkel sepeda yang baik akan menjual sepeda atau komponen yang tepat dan bukan mendorong Anda untuk membeli hal-hal yang tidak Anda perlukan. Seperti halnya kendaraan bermotor, seorang konsumen yang puas akan kembali lagi untuk membelanjakan uangnya pada komponen perawatan sepeda. Selain bengkel sepeda, pabrikan sepeda dapat pula berperan dengan menyediakan sepeda yang tepat untuk kegiatan Bike 2 Work. Sebuah pabrikan sepeda lokal telah merilis sepeda edisi Bike 2 Work dengan harga setara dengan sebuah telpon genggam kelas menengah. Sebelumnya di luar negeri, sebuah pabrikan telah mendonasikan sepeda yang dibuat khusus untuk penggunaan di Afrika dengan memperhitungkan penggunaan dan kemampuan mereka. Ada baiknya pabrikan sepeda membuat beberapa spesifikasi sepeda yang disesuaikan dengan lokasi penggunaannya sehingga menjadikan sepeda tersebut lebih terjangkau tanpa meninggalkan kualitasnya. Kegiatan bersepeda menuju kantor memang relatif lebih murah daripada moda transportasi lainnya. Demikian pula seharusnya dengan sepeda sebagai alatnya. Penggunaan sepeda yang mahal, seperti halnya dengan penggunaan mobil mewah bukanlah hal yang diharamkan, tetapi sebenarnya kegiatan Bike 2 Work tidak memerlukan hal itu. Seperti halnya motto dari sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa di sebuah Universitas di Bandung, “Tidak punya sepeda tidak mengapa, dukung sepeda mengapa tidak?”, yang dalam hal ini menjadi “Tidak punya sepeda mahal tidak mengapa, Bike 2 Work mengapa tidak?”
|
|