“Despite what were you thinking, bike industry is still an industry. People still make money on it and will succumb to the other industrialization principle.”
Saat saya membalik halaman sebuah online sebuah alinea membuat saya tersadar akan realitas. Ya, industri sepeda memang sebuah industri. Suka atau tidak suka individu yang bergerak di dunia sepeda harus menjalani hidupnya dan membutuhkan biaya.
Image sepeda adalah kendaraan alternatif yang murah dan berpihak ke rakyat kecil. Sebuah sepeda baru yang dapat diandalkan dapat diperoleh dengan harga 1/10 harga sepeda motor baru. Walaupun memang harga sepeda termahal sebanding dengan harga sebuah mobil bekas, toh image sepeda tetap sebagai alat transportasi murah, jika tidak karena pembeliannya, ya karena biaya operasionalnya yang murah.
Seperti halnya industri lain, industri sepeda juga memiliki sub industri lain seperti bengkel perawatan sepeda, event organizer sepeda, aksesoris sepeda, bahkan usaha pakaian yang mengandalkan komunitas sepeda sebagai konsumen utamanya. Keunggulan sepeda sebagai kendaraan yang murah untuk dirawat juga menjadi kelemahan industri sepeda.
Perawatan sepeda yang murah membuat sulit untuk orang-orang yang bergerak di industri sepeda untuk memperoleh pemasukan dari perawatan sepeda, seperti halnya industri pelumas pada otomotif. Sebagai contoh, jika sebuah sepeda motor digunakan sejauh 40 km sehari, maka dalam jangka waktu setengah tahun biaya bahan bakar yang dihabiskan berjumlah sama dengan harga sebuah sepeda yang dapat diandalkan, itupun belum menghitung biaya perawatan lainnya seperti pelumas, cuci motor, perizinan, dll.
Untuk menghidupi kegiatan bersepeda diperlukan biaya yang diperoleh dari orang-orang yang mendapat manfaat dari dunia sepeda. Manfaat itu bisa berupa penyaluran hobi atau rekreasi, atau pengurangan pos biaya transportasi. Dikarenakan sifat sepeda yang minim biaya perawatan maka jalan lainnya adalah memasalkan pengguna sepeda sehingga terjadi hukum produksi, di mana produk yang dibuat masal menjadi lebih murah dalam biaya produksinya dibandingkan dengan produk yang dibuat terbatas.
Dukungan industri dan pemasalan budaya sepeda memang seperti telur dan ayam. Industri sepeda akan berjalan jika banyak uang masuk ke industri tersebut. Uang akan datang jika pengguna sepeda bertambah banyak. Pengguna sepeda bertambah banyak jika industri sepeda mampu mendukung kegiatan bersepeda.
Sebagai contoh mungkin bisa dibandingkan dengan industri otomotif (mobil dan motor), pabrikan otomotif berlomba-lomba mendukung kegiatan ber-otomotif sehingga image produk otomotif sebagai produk yang “keren” makin tertanam, bahkan untuk orang yang belum mampu memilikinya, minimal banyak orang punya mimpi untuk suatu saat punya sebuah motor atau mobil.
Jadi, kapan masanya orang awam di Indonesia pingin punya mimpi untuk beli Santa Cruz, Pinarello, Bilenky, atau Seven?