Between Red, Black, Mud and Speed

The Words

Blog EntryHari ini di Pemadu ModaJul 20, '08 11:09 PM
for everyone
Kumulai perjalanan ini. Menuju tanah Celebes yang indah.

(pause)

Di bis ini. Serombongan gadis naik. Duduk di depanku, make up tebal dan parfum menyengat. What's up with them? Selamat tinggal kepalsuan.

Semoga di tempat yang kutuju gak ada yang kayak ginian.

Celebes. Here I come

Blog EntryPembangkit Listrik Tenaga Biogas dari IPBJul 16, '08 1:04 AM
for everyone
Dari Website IPB
Selasa, 23 Januari 2007
Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPTP- Fapet- IPB) telah mengembangkan teknologi pembangkit listrik tenaga biogas. Biogas adalah gas hasil fermentasi bahan organik oleh mikroorganisme anaerobic. Teknologi ini sejalan dengan kebijakan pemerintah mengenai pengembangan bioenergi alternatif dari berbagai bahan organik.

“Selama ini biogas dikenal hanya dimanfaatkan sebagai bahan bakar keperluan rumah tangga khususnya untuk memasak saja, padahal biogas bisa juga dimanfaatkan sebagai sumber energi pembangkit generator listrik,” ungkap Peneliti Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Fakultas IPB, Suhut Simamora sambil mempraktekkan kinerja generator listrik temuan IPB, Senin (22/1) di Rumah Pemotongan Hewan Kampus IPB Darmaga. Bersama rekannya yang juga staf IPTP-Fapet-IPB, Salundik dan Sri Wahyuni, Simamora mengembangkan teknologi pengolahan biogas IPB.

Kelebihan bahan bakar biogas untuk memasak ialah menghasilkan nyala biru dan panas yang sama dengan LPG, tidak beracun, tidak berbau, serta tidak menimbulkan jelanga.

Proses produksi biogas terbilang sederhana. Bahan utamanya ialah campuran feses, urine (air kencing), dan sisa pakan (bahan organik) dengan pengenceran air. Perbandingan air dan kotoran adalah 2 :1. Nilai kalor biogas ditentukan oleh gas methan (CH4) dan karbon dikosida (CO2). Bahan utama kemudian ditampung dalam digester (pencerna bahan organik) disesuaikan dengan kapasitas dan jumlah ternak. Pengisian pertama harus sudah tercipta kondisi anaerob. Waktu tunggu pengolahan biogas 13-20 hari dari isian pertama. Digester dengan kapasitas 3 meter persegi bisa menampung kotoran 2-4 ekor ternak sapi dewasa dan menghasilkan gas bio sebanyak 1800 liter. Biogas sebanyak ini cukup untuk kebutuhan memasak keluarga (5 orang anggota keluarga tiap harinya).

“Biogas ini mampu mensubtitusi kebutuhan minyak tanah suatu pembangkit listrik. Setiap satu liter biogas mampu menghasilkan energi listrik setara dengan kemampuan 1.4 liter minyak tanah,” kata Simamora. Generator pembangkit listrik IPB mampu menghasilkan listrik maximum output power 500 watt dan 700 watt serta menerangi selama 4-6 jam. Hal ini disebabkan keterbatasan mesin generator listrik yang memerlukan pendinginan setelah 4-6 jam pemakaian.

Total biaya instalasi biogas lengkap dengan digester semen dengan kapasitas 5-7 meter kubik sebesar antara Rp 12.5 juta hingga RP 15 juta. Digester dengan kapasitas ini mampu mengolah kotoran sapi sebanyak 5-15 ekor sapi. Sedangkan biaya instalasi digester fiber glass lengkap dengan kapasitas 4 meter kubik lengkap sebanyak Rp 7 juta. Digester fiber glass mampu mengolah kotoran 2 ekor sapi dewasa. Biaya tersebut mencakup penyediaan kompor gas, digester, saluran distribusi, biaya penggalian, pembuatan bak masukan dan keluaran kotoran, generator dan lain-lain.

Selain biogas, dari proses pengolahan kotoran ini diperoleh limbah padat dan cair yang keduanya dikembangkan IPB sebagai pupuk. “Setiap satu kali proses produksi biogas, IPB memperoleh 200 liter limbah cair dan padat. Limbah ini dicampur darah -limbah pemotongan hewan- sebagai sumber Nitrogen (N), tepung tulang sebagai sumber Phospor (P) dan bakaran sekam sebagai sumber Kalium (K). Dari campuran tersebut terbentuklah pupuk NPK,” jelas Simamora. (ris)

Blog EntryLast Post of Her.Jul 2, '08 4:10 AM
for everyone
Buka-buka lagi file minggu lalu nemu posting ini minggu kemarin.

Cofeemix, bikin hidup lebih hidup di Multiply. Minggu kemarin ketemu lagi dengan beliau di Seminar, beliau lagi sibuk nyiapin sidang.

Flash back lagi, YM dengan Lukman,

Lukman: Lagi di mana euy?
Saya: Masih di rumah, tapi mau pergi nonton "Perempuan Menuntut Malam"
Lukman: Ikut atuh, saya sama Bu Leni da.
(kurang lebih deh, pasnya mah lupa.)
Dan ketemu lah saya setelah sekian lama sejak jam kerja kampus jadi sama dengan jam kerja kantorku.

Pertama ketemu:
Beliau yang terima berkas perpindahan saya dari Kampus cap Makara. Bahkan karena kalender akademik di kampus hijau ini lebih lambat, saya lupa balik lagi buat membereskan administrasi pendaftaran.
Dan Beliau yang mengontak rumahku mengingatkan. Terima kasih Bu. Kalo gak ada Ibu saya gak tau jadi apa.

Terima kasih, selamat jalan Bu. Ilmu yang kudapat dari Ibu akan saya sebarkan walau sudah berkurang karena kelemotanku.

Lebih jauh
Leni Juwita

Atau silahkan google dengan keyword namanya karena ternyata banyak tulisan beliau yang tidak aku ketahui sebelumnya

Blog EntryIrish Murdoch's QuoteJul 2, '08 12:30 AM
for everyone
"The bicycle is the most civilised conveyance known to man. Other forms of transport grow daily more nightmarish. Only the bicycle remains pure in heart."

-Iris Murdoch- Red and Green

Yup, sepeda itu alat transpor yang paling punya hati, itu kata Oom Murdoch. Walaupun belum baca bukunya, quotationnya beer menyentuh hati. Di saat kendaraan bermotor berlomba dengan jargon, lebih kenceng, lebih irit, lebih gaya, dll. saya merasa ada yang hilang di jargon-jargon tersebut. 

Hati, ya hati, so dalam pencapaian paling itu terdapat mimpi buruk bahwa suatu saat akan ada kendaraan lain yang melebihi ter tersebut. Selain itu, eksklusifitas di antara pengguna suatu merek terjadi. Entah akibat strategi promosi maupun alasan "punya gua motor yang ini". Dan sepeda menawarkan suatu yang lain, sebaris senyum yang Anda lemparkan ke pengendara sepeda saat Anda bersepeda besar kemungkinan dibalas dengan senyuman pula, terlepas belum kenalnya dengan orang tersebut, atau sepeda yang dimiliki lain merek.

Mari belajar menjadi civilized melalui bersepeda.

Blog EntrySalah KaprahJun 26, '08 12:16 AM
for everyone
Baru dapet satu lagi kesalah kaprahan, atau pencerahan dari milis jurnalisme. Ternyata Mafia itu bukan bahasa Italia, tapi gerakan yang seharusnya asli italia. Sekedar info aja.

"Ada lagi salah kaprah yang sudah menginternasional dan sudah
melembaga. Pasti familiar dengan kata MAFIA khan?. MAFIA itu arti
awalnya adalah "Morte Alla Francia Italia Anela" artinya Maut di
Tangan Perancis adalah Tangis Italia. Ini menggambarkan kebencian
orang Sicilia Italia atas prancis.Legenda lain menceritakan bahwa
setelah seorang gadis Sisilia diperkosa dan dibunuh oleh serdadu
Perancis, ibunya meratap, "Ma fia, ma fia" ("putriku, putriku!"). Jauh
kan dengan gambaran bahwa arti MAFIA adalah kejahatan terorganisir."

atas posting
Rezki Hasibuan
KBR68H
http://groups.yahoo.com/group/jurnalisme/message/32454;_ylc=X3oDMTJydW5icmllBF9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzE5MzgyMTEEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MDE5OTg3BG1zZ0lkAzMyNDU0BHNlYwNkbXNnBHNsawN2bXNnBHN0aW1lAzEyMTQzOTc2NjA-

Blog EntryIn Spanish Gustar means -to likeJun 24, '08 3:32 AM
for everyone
The definition from the word Gusteris is someone who does only what he wants/likes. So, I guess it describe me best.

Blog EntryPak Gandang berkataJun 17, '08 12:52 AM
for everyone
Kalo rampok terus kaya, apa dia berhak bersyukur sama Gusti Allah?

Blog EntryMy version of Speed Racer quotesJun 16, '08 2:25 AM
for everyone
Trixie: Since when did winning become so important?
Speed: It is important. You gotta win if you want to keep driving, and that's what I want to do. It's the only thing I really know how to do.
Trixie: That's not true.
Speed: Come on, I wouldn't have made it out of high school without your help.
Trixie: Okay, that's true.

Anyone: Since when did cycling become so important?
Me: It is important. You gotta ride if you want to keep cycling, and that's what I want to do. It's the only thing I really know how to do.
Me: That's not true.
Speed: Come on, I wouldn't be sane enough without it.
Me: Okay, that's true.



Selebaran Bocah Bintang 13 Tahun yang Berujung Laporan Pidana

Oleh : MARDI SAMPURNO, Malang

Hanya karena terlalu kreatif dan kerap berimajinasi
saat menulis, seorang bocah 13 tahun yang duduk di
kelas dua madrasah tsanawiyah (SMP) kini jadi
tersangka. Kasus jurnalis cilik yang aktif bikin
buletin ini sedang ditangani Polres Malang, Jawa
Timur.

BINTANG sekilas seperti anak-anak pada umumnya. Status
tersangka tak membuat dirinya murung. Dia terlihat
ceria dan gemar berceloteh tentang apa saja yang
diamati.

Wah, masuk koran. Bisa terkenal dong, ujarnya sambil
mengulurkan tangan kepada Radar Malang (Grup Jawa Pos)
di rumahnya, Kompleks Perum Persada Bhayangkara,
Singosari, Malang, Minggu (11/5) lalu.

Khoirul Abadi, 44, ayah Bintang, yang ikut mendampingi
langsung merespons sikap anaknya. Katanya ingin jadi
wartawan. Nah ini ada orangnya, kata bapak tiga anak
yang sehari-hari menjadi dosen di Universitas
Muhammadiyah Malang (UMM) itu.

Menurut Khoirul, anak pertamanya itu memang
bercita-cita menjadi wartawan. Tak heran jika selama
ini banyak karya tulis asal-asalan yang berbau karya
jurnalistik.

Lihat saja buletin mini karyanya yang diberi nama
Korap Cak! yang merupakan singkatan Korane Wong Sarap
(Korannya Orang Gila, Cak). Entah apa maksudnya. Yang
jelas, itu sekadar ungkapan tanpa makna yang
menunjukkan kreativitasnya, ujar Khoirul.

Buletin ini sudah dibuat dua edisi. Isinya kumpulan
esai dan tempelan guntingan gambar foto yang diambil
dari koran atau majalah. Buletin tersebut dibikin
bocah yang hobi main sepak bola itu dari kertas sisa
milik ayahnya yang tak terpakai.

Dari buletin itu, terlihat Bintang memang superkreatif
dan lucu. Halaman depan salah satu buletin menampilkan
guntingan foto pejabat sedang berceramah di depan
warga. Pada teks foto diberi tulisan HANYA BENGONG:
Pakde Yit ngapusi wong-wong. Sedangkan judul berita
tersebut adalah Pakde Ngapusi? Inti beritanya, Pakde
Yit sedang berpidato di depan warga dan para perangkat
desa, karena sebentar lagi mereka bakal mendapat
bantuan langsung tunai (BLT) dari pemerintah. Namun,
saat itu warga sedang membutuhkan fasilitas mandi cuci
kakus (MCK). Karena tak sesuai keinginan warga, BMZ
menilai Pakde Yit ngapusi (membohongi, Red) warga.

Di buletin itu juga tak lupa dicantumkan acara stasiun
televisi yang diberi nama Duren TV . Acara favorit
pukul 04.00-05.00 adalah kejatuhan durian (ketiban
duren). Lalu, pukul 05.00-06.00 dilanjutkan acara
makan durian.

Hal serupa ditunjukkan di rubrik olahraga. Dia
memasang gambar mobil balap F-1 yang dikendarai Felipe
Massa. Dalam gambar itu Felipe Massa membuka sedikit
helmnya. Dari gambar itu, teks foto berbunyi mobil
Felipe sedang mogok dan pengemudinya mencoba
menyembuyikan rasa malu dengan membuka sedikit kaca
helmnya.

Dalam isi beritanya, pengemar busana T-shirt itu
melakukan wawancara imajiner dengan pembalap asal
Brazil tersebut di Australia. Salah satu kutipannya
My car is very bad! ungkap Felipe, saat ditemui tim
Korap Cak di Australia.

Buletin itu juga dibumbui iklan versinya, baik iklan
lowongan maupun iklan jasa. Bahkan, dia membuat 10
peribahasa yang dipelesetkan.

Contohnya: Air susu dibalas dengan airmail = Kebaikan
sesorang dibalas dengan surat; Ma lu bertanya ma gue
yang jawab = Ibumu tanya, ibuku menjawab; Nasir sudah
menjadi tukang bubur = Nasir sudah dapat kerja; dan
serigala berbulu ayam = Serigala terkena kutukan.

Karena kreativitasnya itu, Bintang yang kini kelas II
Madrasah Tsanawiyah (MTs) 1 Malang didapuk menjadi
pengurus majalah sekolah. Saya sudah mengisi satu
kali tulisan tentang tokoh-tokoh wanita penting di
Indonesia. Sedianya bulan depan baru terbit, kata
Bintang. Bahkan, karena kepiawaiannya itu pula, dia
kerap meraih peringkat 10 besar di kelasnya.

Disinggung tentang ulah usilnya menulis dua selebaran
dari kertas kalender yang ditempel di gerbang sekolah
Bani Hasyim (lokasinya berdekatan dengan rumahnya di
Perum Persada Bhayangkara, Singosari) yang membuat dia
jadi tersangka, Bintang mengaku menyesal. Saya harus
banyak mengendalikan diri saya. Saya salah dan minta
maaf kepada Pak Aji (Aji Dedi Mulawarman, pengelola
sekolah Bani Hasyim), katanya.

Isi selebaran usilnya adalah pengumuman bahwa gedung
sekolah itu dijual. Lalu, di selebaran lain ditulis
Dicari yang diikuti nama anak Aji Dedi Mulawarman.

Menurut dia, saat membuat selebaran pada siang 24
Februari lalu itu tak ada sedikit pun niat untuk
mengejek atau mempermalukan sekolah. Dengan tulisan
itu, dia berharap bisa membuat teman-temannya tertawa.
Saya hanya ingin dua teman saya (diajak saat
menempelkan selebaran) tersenyum melihat tulisan itu,
katanya.

Meski sudah menjadi tersangka, Bintang mengaku tak
bersedih. Kata dia, kedua orang tua dan teman-teman
sekelasnya membesarkan hatinya kalau sekarang sedang
diuji. Saya harus lulus menghadapi ujian ini,
katanya lirih.

Ada satu hal yang ditakutkan jika kelak dia menghadapi
persidangan. Dia mengaku grogi saat duduk di kursi
pesakitan sebagai terdakwa. Yang pasti rasanya
berbeda ketika duduk di bangku sekolah atau bangku di
rumah. Katanya kursinya jika diduduki rasanya panas,
katanya.

Sang ayah, Khoirul, mengakui bahwa anak pertamanya itu
memang terlihat berbeda dengan beberapa teman
sepermainannya. Sejak duduk di bangku madrasah (SD),
dia sangat kritis. Dia selalu bertanya tentang apa
yang dilihat, jelasnya.

Jika tak puas, dia mencoba membuktikannya sendiri.
Pokoknya mirip wartawan, banyak tanya dan selalu
ngeyel untuk mempertahankan argumennya. Karena itu,
kami sempat kewalahan mengarahkannya, kata Khoirul.

Bocah yang gemar membaca novel ini selalu meluangkan
sebagian waktunya untuk membuka internet. Kemungkinan
dari situlah dia banyak tahu tentang informasi
terkini. Termasuk kemampuan berimprovisasi yang
membuat dia jauh dari anak-anak seusianya,
tambahnya.

Khoirul menyadari peristiwa yang menimpa anaknya kali
ini cukup berat. Namun, dia mencoba mengambil hikmah
dari semuanya. Khoirul berjanji mengawasi serta
mengarahkan anaknya agar tidak mengulangi
perbuatannya.

Kasus Bintang yang dilaporkan Aji Dedi Mulawarman
dengan pasal pencemaran nama baik itu kini ditangani
Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Malang.
Dalam waktu dekat kasusnya dilimpahkan ke Kejaksaan
Negeri Kepanjen, Malang.

Berbagai upaya damai sudah dilakukan keluarga Bintang.
Namun, Aji Dedi dan Sekolah Bani Hasyim tetap
melanjutkan proses hukum ke kepolisian. Mengapa tega
memerkarakan anak kecil? Maskur SH, penasihat hukum
pelapor, mengatakan, kasus itu tak bisa dianggap
sepele. Sebab, hal itu sudah dilakukan beberapa kali.

Kata dia, tersangka harus diberi pembelajaran agar tak
mengulangi perbuatannya. Langkah hukum adalah langkah
yang tepat untuk memberi pembelajaran, katanya. (el)

Blog EntryAku di sini, bahagiaMay 17, '08 9:53 AM
for everyone
Mereka bilang surga itu tempat terindah. Tempat segala keinginan tercapai, madu dan susu mengalir di sungai-sungainya. Bidadari adalah permaisuri. Ranum buah-buahan senantiasa seperaihan.
Temani aku di sini malaikatku. Aku di sini, bukan di sana. Di sini hidup lebih indah, tawa terdengar, dan petualangan terbentang. Senyum sejoli pada pasangannya sebagai terima kasih. Jabat tangan petarung, Kepalan ke udara sang petualang di puncak bukit. Di sini tidak ada yang pasti, karena yang pasti adalah ketidak pastian.
Mari bersulang malaikatku, untuk karunia-Nya, sang ketidak pastian. Temani aku di sini dalam kehidupan.

Kemarin adalah kali pertama Hari Bumi berjalan tanpa ada tulisan dari pak Otto Soemarwoto. Sang Begawan lingkungan memang telah berpulang awal bulan ini.

Saya penasaran apa yang pak Otto tulis jika beliau berkesempatan untuk berada di antara kita kemarin. Tulisan beliau tentang pengurangan kerusakan dengan cara mengurangi penggunaan AC, kendaraan bermotor, dan memperbanyak transportasi tanpa polusi (jalan kaki dan bersepeda) secara rutin menghiasi koran lokal pada hari bumi setiap tahunnya.

Saya menghabiskan hari bumi kemarin bersama Lingkarhijau, melakukan kampanye ramah bumi (entah kenapa saya lebih suka frasa ini daripada Ramli alias Ramah Lingkungan). Bersama dengan sejuknya udara Bandung di sore hari, thermometer Cikapayang menunjukkan angka 22°C saat itu. Taman eks Pom Bensin Cikapayang sudah penuh oleh rekan-rekan Lingkarhijau. Mereka melakukan orasi di pembatas jalan Dago, sementara beberapa lainnya melakukan performing art.

Ada yang hilang dari aksi tersebut. Aksi tersebut dilakukan di antara beratus kendaraan yang lalu lalang di daerah tersebut. Pada aksi tersebut dilakukan pembagian bibit kepada para pengendara mobil yang berhenti saat lampu stopan menyala merah. Bibit tanaman merupakan simbol dari keinginan untuk memperbaiki keadaan. Yah, memperbaiki bumi yang sudah tidak seimbang ini.

Ironis jika aksi perbaikan bumi itu tidak diikuti dengan aksi promosi pengurangan kerusakan (damage limitation), mematikan mesin kendaraan di saat berhenti di lampu merah lebih mudah dilaksanakan oleh orang kebanyakan. Orang-orang yang mungkin hanya sempat untuk beristirahat di saat diri mereka ada di rumah. Mereka mungkin kekurangan waktu untuk sekedar menanam pohon, atau bahkan tidak mampu untuk menanam pohon. Beberapa dari mereka tidak punya lahan akibat hidup mereka sendiri masih membayar kepada sang ibu kost untuk sekedar tinggal.

Imbauan untuk mematikan mesin sejenak mungkin masih dapat mereka lakukan dengan mudah di tengah himpitan tuntutan hidup. Pembatasan penggunaan kendaraan bermotor memang masih utopis dengan tingkat kesibukan manusia Bandung dan minim (dan mahal)nya fasilitas transportasi umum. Setidaknya pemborosan bahan bakar dan produksi karbon dioksida dapat dikurangi dengan imbauan mematikan mesin di saat lampu merah, temporer memang, tapi itu satu langkah maju.










Apa yang ada di koran hari ini? Hmm, setelah
kesibukan di pagi hari, minum kopi, akhirnya saya bisa menyelinap sebentar untuk
baca koran. Headline hari ini masih tentang kehutanan sih, tapi saya tergelitik
oleh berita di halaman tiga,"Tidak Realistis Untuk Mempertahankan Harga BBM".
Hmm, ini bisa jadi ice breaker saya untuk tulisan yang sudah lama gak saya buat
di MP.

 

Ternyata anggaran untuk subsidi BBM sudah mencapai
25% dari APBN atau 260 triliun, wah ternyata banyak juga yah. jadi dengan asumsi
penduduk Indonesia 260 juta, masing-masing orang menanggung beban subsidi BBM
sebesar 1 juta rupiah atau dua ribu tujuh ratus rupiah sehari, kecil memang
perharinya untuk sebagian orang. Tapi untuk kebanyakan dari kita yang tinggal
jauh dari kota besar, atau kaum miskin kota, uang sebesar itu cukup
berharga.

 

Apa hasil setengah porsi makanan yang disumbangkan
oleh seluruh rakyat Indonesia itu? Yah, ada sedikit penurunan ongkos angkutan
(atau tepatnya, ongkos angkutan tidak jadi naik). Kalau kita berpikir
sebaliknya, apa sih yang tidak bisa kita beli karena uangnya kita habiskan untuk
beli bensin? Gedung sekolah, pendapatan guru yang lebih baik (supaya mereka
lebih fokus), atau kalau memang pos itu harus digunakan untuk transportasi maka
dana subsidi itu bisa digunakan untuk pembelian 260.000 buah bus kelas bagus
(soalnya saya gak tau harga bus kelas ekonomi), atau 65.000 buah bus setiap
propinsi. Hmm kalau busnya gratis walaupun BBMnya mahal, murah gak yah ongkos
transport? Kan konsumsi BBMnya dibagi ke seluruh penumpang bus.

 

Ada solusi lain?

 

 


Blog EntryIn Memoriam (a little bit late)Apr 8, '08 5:20 AM
for everyone
I should really write this a couple of days ago.
But then I think it's better late than never.

 
I recognized him initially from his writing on
newspaper and other media. His writing is, as Mr. T. Bachtiar said in local
paper, really touches the common people. His writing is not like he resend his
writing from the science seminar to local newspaper, it was really made for
newspaper, easy to digest by busy readers, offers practical solution, and
position himself not as a theorist, but merely someone who's willing to help by
giving advice to the people that has problem.

 
Born with the name of Soemarwotto, his childhood
name is Otok, which spelled Otto by his colleague at UCB, thus the name Otto
Soemarwotto. Even though his academic achievement is numerous, he seldom
mentioned his academic title in his writing, that represent his will to keep
humble and blended with the people that he helped.

 
One of his best achievement in my opinion is that
on March 1, 1999 he had his best present, a seminar attended by 400 personnes
including the Minister of Environment at that time, Emil Salim. That gift is a
symbol that he was closely worked with his colleague, and that his collleague is
recognizing him for his excellence in his discipline.

 
After his death, our local newspaper is flooded
with columns about Mr. Soemarwotto, some mentionable writer including Mr.
T. Bachtiar (Bandung Basin Research Group), and H.A.M Ruslan (Head of West Java
Legislative).

 
From Wikipedia (Indonesian, translated to English):
 
"Prof. Dr. Ir. Otto Soemarwoto (born in Purwokerto,
February 19, 1926) is an Indonesian ecologist. Graduated from Universitas Gadjah
Mada (UGM) majoring in agriculture (1954), and Universitas California of
Berkeley (1960), he was then becoming the youngest professor at UGM when he was
started in 1960. He was the Director for National Biology Institute from
1964-1972. At 1972, he started Pusat Penelitian Sumber Daya Alam dan Lingkungan
(Natural Resource and Environment Research Center)and worked at that institution
until 1992. Beside that, he was also took duty of becoming director for National
Ecology Institute from 1972 until 1991. On 1993, he joined Business Council for
Sustainable Development led by Bob Hasan. At the same year he had Honoris Causa
Doctorat from Wageningen Agricultural University (Belanda). He became Professor
(Emeritus) for Environment at Universitas Padjadjaran in Bandung.

 
Otto Soemarwoto died on April, 1st 2008 because of
his illness at Sentosa Hospital, Bandung.

 
Otto Soemarwoto received Bintang Mahaputra Utama on
the year 1981. He left a wife and four children."


Blog Entry0:22 Holiday in CambodiaMar 30, '08 1:30 PM
for everyone

Sebuah niat untuk bikin kopi yang tak kunjung terwujud.

Dinginnya malam dengan hamparan es di rumahku dan bocornya genteng hasil hujan tadi sore.

Dead Kennedy berkoar sebuah repertoir "Holiday in Cambodia"

Dan aku terlarut dalam trans


Blog EntryCommuting 101: Pelajari "kampung" lokal AndaMar 12, '08 4:50 AM
for everyone
7 Maret 2008 oleh Noah

Secara pribadi saya pikir bike commuting lebih dari sekedar dari dan ke tempat kerja sehari-hari. Tetapi tentang bersepeda untuk transportasi secara luas. Beberapa waktu yang lalu, Warren mengenalkan kami pada ClifBar 2 Mile Challenge. Untuk kita yang tinggal di pinggiran kota dan dalam proses untuk mengurangi penggunaan mobil sebagai komuter sepeda baru (seperti saya), godaan untuk mengendarai mobil ke tempat yang biasa dikunjungi sangat menggoda, karena tempat itulah yang ingin dituju, dan tempat itu terlalu jauh atau tidak praktis untuk dikunjungi dengan sepeda. Seringnya, ada tempat yang serupa dekat dengan rumah yang belum Anda ketahui. Atau, jika sudah, sebagai kebiasaan tempat itu terlewatkan.

Saya hanya menggunakan contoh pribadi di hidup saya, tapi saya yakin hal sama juga terjadi di banyak komuter sepeda yang bar. Sebagai ganti mengendarai mobil ke tempat saya potong rambut (sekitar 13 kilometer dari rumah), saya mencoba beberapa tukang potong rambut yang lebih dekat. Sebagai ganti belanja di toko yang besar dengan merk-merk terkenal di jajaran barang yang dijualnya, saya mencoba berbelanja di mini market dekat rumah. Bar yang sering saya datangi cukup jauh, tetapi ada bar lokal yang hanya berjarak beberapa perempatan. Dokter langganan saya berjarak 25 kilometer dari rumah, tapi kliniknya punya cabang yang berbagi lahan parkir dengan apartemen saya. Saya harus pindah dokter, tapi saya bisa berjalan kaki ke tempat dokter.

Sehari-hari, saya berkendara melalui beberapa kompleks ruko. Ruko-ruko itu sangat banyak di pinggiran kota Kansas City, tersebar di jarak 2 atau 3 kilometer. Cobalah untuk bersepeda ke sana dan melihat toko apa saja yang dekat dengan rumah. Hampir semua yang saya butuhkan atau inginkan ada dalam radius tiga kilometer: Dokter gigi, kantor pos, cabang dari bank, dokter, restoran, toko serba ada, coffee shop, elektronik dan toko pakaian, bahkan sebuah toko diskon besar.

Mempelajari "kampung" lokal adalah langkah besar untuk menggunakan sepeda lebih dan mengurangi penggunaan mobil. Hal itu juga memungkinkan Anda untuk mampir saat pergi atau pulang ke tempat kerja untuk melakukan sesuat, menghemat waktu karena toh Anda sudah di luar. Anda tidak harus meninggalkan hal-hal yang sepertinya terlalu jauh untuk bersepeda. Anda mungkin menemukan hal yang sama di sekitar rumah yang memenuhi kebutuhan Anda.

diambil dari http://commutebybike.com/2008/03/07/commuting-101-learn-your-local-village/

Blog EntryTolong doain saya yah.Feb 28, '08 3:40 AM
for everyone
Untuk rekan-rekan semua.

Tolong doain saya. Saya ingin cepat kaya, hidup bahagia, negara yang saya tinggali aman dan makmur, dan seluruh manusia hidup dalam damai.

Sebagai timbal baliknya, saya tidak akan menuntut bagian dari pahala yang Anda dapatkan.

Terima kasih.

PS: special offer: Jika Anda lakukan hal tersebut tepat jam 18:15, Anda akan mendapatkan 70x lipat dari yang Anda dapatkan

Blog EntryBurgerkill Dicekal di JakartaFeb 20, '08 9:24 PM
for everyone
Link
Inilah reaksi aparat terhadap keterbatasan dari komunitas yang sedang dirundung duka. Sebuah komunitas yang patut dijadikan contoh dengan mengatasi berbagai keterbatasan.

Bermula dari tahun 1990-an, saat saya masih sekolah di SMA.Saat itu ada satu radio rock di Bandung. Dari situ mulailah saya hobi nonton gig.

Saya sendiri sudah gak banyak involve di komunitas ini, sudah gak banyak dateng ke gig sejak saparua ditutup. Sudah gak punya sakit leher tiap senin karena kebanyakan head banging (istilah ini masih ada gak sih?). Tapi yang saya alamin, saat SMP, waktu nonton Sepultura jaman SMP dulu, cuma modal ongkos bis sekedarnya, berangkat ke Jakarta, gak tau Lebak Bulus di mana, akhirnya naik angkot yang gak tau kemana dari Cililitan. Di jalan ketemu sesama, eh akhirnya angkot yang saya tumpangi mereka carterkan (bayar lho... gak kayak suporter b**a) akhirnya sampe deh ke Lebak Bulus.

Yang saya lihat dari komunitas ini. Kalau mau dibilang ini contoh baik dari budaya barat ya bisa. Dari mulai zine yang beredar terbatas (dibatasi oleh kawawuhan he he), DIY album, start starting small, pertemanan. Urusan sangar, musik keras, dll. ya itu bajunya doang ternyata. Jadi tolong, buat rekan-rekan (atau bapak-bapak, buat kalian yang gila hormat) yang mau ngejudge terhadap komunitas ini, be involve di komunitas ini.

Dari dulu, sekarang juga gak banyak berubah, fanzine makin marak, apa lagi dengan kehadiran internet. Permasalahan yang ada di AACC kemarin juga salah satu indikasi. Bagaimana dengan sumber daya yang terbatas (dana promosi yang kurang, dll.) toh tidak mencegah membludagnya penonton gig. Dari sini bisa ditarik, bahwa walaupun dengan dukungan yang kurang (bahkan hambatan yang dibuat-buat), toh komunitas ini tidak lantas mati.

Saat ini, komunitas ini tidak membebani pemerintah (yang berarti membebani rakyat juga). Tidak perlu kucuran APBD untuk mendukung sebuah band yang akan perform di luar negeri, seperti halnya klub b**a yang mengancam bubar jika tidak dapat kucuran dana APBD, yang dananya justru digunakan untuk membayar pemain asing dengan kualitas yang sama dengan pemain bangsa urang.

Blog EntryDiary 12 februari 2008Feb 12, '08 3:40 AM
for everyone
  1. Dua hari sebelum Valentine
  2. Dua hari setelah pulang dari Malang, capeknya sudah hilang, tinggal cuciannya masih belum beres juga. Sepeda belum balik.
  3. Balik lagi ke kenyataan hidup, jadi ganjel pintu.
  4. Kejujuran itu nomor satu
  5. Kebenaran gak bisa diperjual belikan
  6. Mood nulis gak ada banget

Blog EntryCul-de-SacFeb 4, '08 3:16 AM
for everyone
Jalan buntu, alias cul-de-sac.

Hari-hari ini aku ingin menulis,

Saya teringat ucapan pak Yono, dulu waktu masih sering nongkrong di TTB. Dia itu more or less, orang yang multi-talented, in music, engineering, social life, dan jangan bilang soal sport. Downhill sepeda itu, dia termasuk salah satu yang mulai, dari saat adventure bareng sampe akhirnya berevolusi jadi murni downhill, itu taun 1996-an. Sebelumnya sih paling-paling cuma atlet aja yang main downhill untuk meraih emas di event politik berbaju olahraga.

Beliau pernah bilang, jangan pernah berharap banyak dari hidup. Cerita hidupnya dia, sempat jadi member chamber of music, pernah jadi med-rep, toh akhirnya hidupnya ada di belakang meja toko bahan bangunan.

Walaupun saya belum banyak pengalaman juga, saya pernah jadi penyiar radio, walaupun cuma radio kampus, beberapa tulisan saya sempat dimuat di majalah walaupun habis-habisan diedit sama editornya. Pernah jadi operator warnet yang bermimpi suatu saat bisa jadi webmaster profesional. Jadi mekanik sepeda, pedagang, dan lain-lain. Hal-hal yang bisa saya banggakan dalam setiap langkahnya.

Tapi kebanggaan tidak dapat membayar kebutuhan hidup, setidaknya belum. Hingga akhirnya saya harus mengibarkan bendera putih pada realitas. Dan saya menerima kerja rutin ini.

Menulis menjadi benteng terakhir keinginan otak saya untuk bekerja. Dan hari-hari ini saya mendapatkan benteng ini pun sudah mulai hancur. Tiada kalimat yang saya selesaikan untuk sekadar sebuah blog.

Blog EntryBike Industry is Still An IndustryDec 4, '07 10:04 PM
for everyone

“Despite what were you thinking, bike industry is still an industry. People still make money on it and will succumb to the other industrialization principle.”

Saat saya membalik halaman sebuah online sebuah alinea membuat saya tersadar akan realitas. Ya, industri sepeda memang sebuah industri. Suka atau tidak suka individu yang bergerak di dunia sepeda harus menjalani hidupnya dan membutuhkan biaya.

Image sepeda adalah kendaraan alternatif yang murah dan berpihak ke rakyat kecil. Sebuah sepeda baru yang dapat diandalkan dapat diperoleh dengan harga 1/10 harga sepeda motor baru. Walaupun memang harga sepeda termahal sebanding dengan harga sebuah mobil bekas, toh image sepeda tetap sebagai alat transportasi murah, jika tidak karena pembeliannya, ya karena biaya operasionalnya yang murah.

Seperti halnya industri lain, industri sepeda juga memiliki sub industri lain seperti bengkel perawatan sepeda, event organizer sepeda, aksesoris sepeda, bahkan usaha pakaian yang mengandalkan komunitas sepeda sebagai konsumen utamanya. Keunggulan sepeda sebagai kendaraan yang murah untuk dirawat juga menjadi kelemahan industri sepeda.

Perawatan sepeda yang murah membuat sulit untuk orang-orang yang bergerak di industri sepeda untuk memperoleh pemasukan dari perawatan sepeda, seperti halnya industri pelumas pada otomotif. Sebagai contoh, jika sebuah sepeda motor digunakan sejauh 40 km sehari, maka dalam jangka waktu setengah tahun biaya bahan bakar yang dihabiskan berjumlah sama dengan harga sebuah sepeda yang dapat diandalkan, itupun belum menghitung biaya perawatan lainnya seperti pelumas, cuci motor, perizinan, dll.

Untuk menghidupi kegiatan bersepeda diperlukan biaya yang diperoleh dari orang-orang yang mendapat manfaat dari dunia sepeda. Manfaat itu bisa berupa penyaluran hobi atau rekreasi, atau pengurangan pos biaya transportasi. Dikarenakan sifat sepeda yang minim biaya perawatan maka jalan lainnya adalah memasalkan pengguna sepeda sehingga terjadi hukum produksi, di mana produk yang dibuat masal menjadi lebih murah dalam biaya produksinya dibandingkan dengan produk yang dibuat terbatas.

Dukungan industri dan pemasalan budaya sepeda memang seperti telur dan ayam. Industri sepeda akan berjalan jika banyak uang masuk ke industri tersebut. Uang akan datang jika pengguna sepeda bertambah banyak. Pengguna sepeda bertambah banyak jika industri sepeda mampu mendukung kegiatan bersepeda.

Sebagai contoh mungkin bisa dibandingkan dengan industri otomotif (mobil dan motor), pabrikan otomotif berlomba-lomba mendukung kegiatan ber-otomotif sehingga image produk otomotif sebagai produk yang “keren” makin tertanam, bahkan untuk orang yang belum mampu memilikinya, minimal banyak orang punya mimpi untuk suatu saat punya sebuah motor atau mobil.

Jadi, kapan masanya orang awam di Indonesia pingin punya mimpi untuk beli Santa Cruz, Pinarello, Bilenky, atau Seven?


Pages:12
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help