 | D'Intro | Feb 7, 2007 |
Guess, somehow you've been trapped to this site, hein? Well, I ain't offerin' ya anything but an ordinary life of a Javanese Hill-billy turns into a day to day office worker that have faith, somehow life turns the favor on him |  | Shooting Kick Andy Hope di Gedung Indonesia Menggugat |
|  | Sempat mampir lihat persiapan Video Mapping menjelang peringatan ulang tahun Bandung. Foto ini diambil tanggal 5 September 2011 |
|  | CFD terakhir sebelum Iedul Fitri. Dari 3 lokasi Car Free Day di Bandung, car free day tetap dilaksanakan, kecuali Car Free Day di Buahbatu. Lengangnya kota Bandung secara umum berimbas juga ke lokasi Car Free Day. Car Free Day yang biasanya penuh sesak dengan warga, saat itu lengang. Sayangnya suasana itu rusak oleh banyaknya penerobos berkendaraan bermotor. |
|  | Hari Sabtu, 9 April 2011 Geotrek Indonesia mengadakan perjalanan ke beberapa objek yang ada di Bandung Selatan. Obyek yang dikunjungi adalah Gunung Sadu, Jembatan Cisondari, Kawah Cibuni, dan Situ Patenggang. Perjalanan ini dipandu oleh Awang Harun Satyana, seorang pakar Geologi dari BP Migas .
Di lokasi pertama, Gunung Sadu, karena sulitnya medan peserta tidak mendatangi secara langsung. Ini karena beratnya medan yang harus dilalui di gunung yang sebenarnya masih berlokasi dekat pusat kota Soreang ini. Selain jalan mendaki yang cukup curam, musim hujan juga menumbuhkan tanaman liar yang semakin menghalangi perjalanan di gunung yang dikeramatkan penduduk sekitarnya. Di depan sederet warung, peserta mendapatkan penjelasan dari pak Awang tentang sifat magnetik bumi, dan anomali magnetik yang terdapat di Gunung Sadu. Beliau menerangkan proses terjadinya medan magnet yang melingkupi bumi, perannya dalam menjaga bumi, dan juga teori evolusi bumi yang dikaitkan dengan perubahan medan magnet bumi.
Bergerak dari situ, kami mengunjungi jembatan Cisondari, atau orang lain menyebutnya jembatan Kopeng. Jembatan yang merupakan elemen penting rute kereta api Bandung-Ciwidey ini pembangunannya menggunakan dua konstruksi, beton dan besi.
Di tempat ketiga, kawah Cibuni, terdapat uap panas yang keluar dari kawah. Uniknya warga mendirikan rumah di dalam kawah. Dari penjelasan pak Awang, kondisi seperti kawah Cibuni ini adalah indikasi potensi energi geothermal.
Perjalanan ini ditutup di Situ Patenggang, sebuah danau yang terbentuk di kawah gunung yang sudah tidak aktif lagi. |
|  | Weekend 26-27 Maret 2011, seorang Gustar datang ke ibu kota. Ada apa sih di lentera yang dipenuhi laron itu? Mari kita simak |
|  | Tanggal 12 Februari 2011 Mata Bumi mengadakan kegiatan Jelajah Geotrek Kaldera Gunung Sunda.
Sedikit foto-foto dari kegiatan itu |
photo by Country Living
Dean: Oh, come on. Aren't you a little bit tempted? Sam: No. Wouldn't be real. I wouldn't trust it. Dean: I don't know. That bear seemed pretty real. Sam: Yeah. Dean: Come on, if you could wish yourself back, you know, before it all started... Think about it .You'd be some big yuppie lawyer with a nice car and a white picket fence. Sam: Not what I'd wish for. Dean: Seriously? Sam: It's too late to go back to our old lives, Dean. I'm not that guy anymore. Supernatural, Wishful Thinking Somehow I found picket fences filling my mind today. Yup, merely a fence, a classic fence. Not fancy, not expensive, even where they come from they come prefabricated so that you can just buy and nail them into place. First of all I guess it would be wise to tell you first what it is. Picket fence is the symbol of common middle class American suburb house. The fence usually house a nice garden, maintained by a family with children. In short, it’s a typical American family. I don’t mean to reflect my vision with something from foreign culture, but apart from extinct kendi in front of Javanese house, I don’t have any thing that resemble white picket fence to do that. The low height of picket fence seems to spells out welcome to visitor, even if their only intentions is to pass by the neighbourhood. Picket fence reflect a simple, quiet, safe life. Really out of place for hectic & hurried one. Why am I writing about picket fence? Guess I can let you interpret why. You could surprise me. Sebuah pendaran merah bergerak turun tertarik gravitasi. Sedikit demi sedikit meredup dan mati. Bunyi kretek sebatang rokok yang bernama sama saat dihisap dalam sepi seakan mengisi ruang kosong. Tiktak tiktak detak jam berbunyi seakan menemani. Dan nanti, setelah sekian kali jarum pada benda bundar itu membentuk sudut seratus dua puluh derajat........ Aku. Memakai sepatuku. Dan kembali pulang. Saat sore menjelang Karena aku telah pergi. Pagi tadi |  | Perjalanan Observasi Lapangan ke PT. Indo Muro Kencana tanggal 14-21 Juni 2010. PT. Indo Muro Kencana adalah salah satu tambang emas di Indonesia, berlokasi di Kabupaten Murung Raya, beroperasi di 3 kecamatan, Kecamatan Tanah Siang, Kecamatan Murung, dan Kecamatan Permata Intan.
Perjalanan ke sana dilakukan dengan pesawat Aviastar NC212 yang dicharter perusahaan PT. Indo Muro Kencana yang dimiliki Straits Resources Australia selama kurang lebih satu jam. Pesawat itu mendarat di Airstrip Mt. Muro yang terbang dari bandara Sepinggan, Balikpapan.
Tim observasi lapangan terdiri dari 4 orang dibagi dalam dua kelompok, dan kelompok saya bertugas observasi di pengolahan, lingkungan dan community development. Foto-foto di pabrik pengolahan memang tidak ada, karena tidak diperbolehkan membawa kamera. Bahkan telpon genggam pun tidak boleh masuk ke areal pengolahan emas. |
|  | TRUEDEE-Community bekerjasama dengan MAT (Muthahari Adventure Team), menyelenggarakan kegiatan JAJAL GEOTREK IV - GEOTREK VII Buku "WISATA BUMI CEKUNGAN BANDUNG": Misteri Bobolnya Danau Bandung Purba. Kegiatan ini dilaksanakan pada 8 Mei 2010. Berangkat 07.00 - dari ITB, peserta berangkat menuju Bendungan Saguling di Rajamandala.Perjalanan ini diguide oleh duo penulis "WBCB": Budi Brahmantyo (geologist), dan T.Bachtiar (geografer) |
 Nemu ini di Wikipedia Commons, Curug Dago yang sekarang sudah sempit dan kotor sekitar 1,5 abad yang lalu masih jadi tempat mandi, hmm padahal pasti jaman dulu daerah ini sepi banget ya.
Ternyata banyak foto Bandung dulu koleksi Tropenmuseum, search aja di sana |  | Dari kegiatan Diklat Konversi Energi yang diselenggarakan oleh Badan Diklat Energi dan Sumber Daya Mineral ini dipelajari beberapa kegiatan alternatif energi baru terbarukan tanggal 18-28 Januari 2010..
Di luar kuliah yang diadakan di Mega Mendung, Puncak juga dilakukan beberapa site visit. Site visit dilakukan di Cinta Mekar, Subang, Institut Pertanian Bogor, Pembangkit Listrik Tenaga Angin dan pabrik biodiesel di Bogor, BPPT di Puspiptek, Kebun Jarak Balittri di Sukabumi, dan kegiatan reklamasi serta CSR PT. Indocement, Cibinong.
Site visit pertama dilakukan di Asia Pacific Microhidro Training Facility di Subang. Tempat yang dikelola oleh pak Iskandar dan ibu Tri ini menjadi tempat pengelolaan listrik mikrohidro yang diresmikan oleh Menteri ESDM dan menjadi contoh untuk pengembangan listrik mikrohidro. Di tempat yang dekat dengan bumi perkemahan Capolaga ini juga mulai digunakan biogas untuk keperluan memasak.
Site visit kedua adalah perjalanan ke kampus Institut Pertanian Bogor. Di sini beberapa pengembangan penggunaan biomassa sebagai bahan bakar melalui pembriketan, maupun produk lain yaitu asap cair, juga beberapa macam pengembangan teknologi pengering hasil pengolahan pertanian dapat dipelajari. Dalam hari yang sama kami mampir ke tempat milik pak Hasan Hambali yang juga pemilik Hotel Salak dan Ayam Goreng Fatmawati. Di tempat ini terdapat sebuah turbin angin dan pabrik biodiesel. Turbin angin yang ada di Bogor ini kurang berfungsi maksimal karena kurangnya kekuatan angin di Bogor. Biodiesel yang dibuat di tempat ini digunakan sebagai bahan bakar bis Trans Pakuan.
Pada hari yang sama juga dikunjungi tempat penelitian biodiesel milik BPPT di Puspiptek, Serpong, di mana terdapat pilot plant biodiesel. Site visit di hari lainnya adalah kunjungan ke Kebun Inti Jarak milik Balai Penelitian Tanaman Industri, Departemen Pertanian. Di sini dikembangkan bibit jarak unggul. Saat ini bibit jarak itu telah mencapai generasi ke tiga yang memiliki tingkat produktivitas 9 ton per hektar per tahun. Selain tanaman jarak juga ada mesin pengolah jarak hingga menjadi biodiesel.
Kunjungan terakhir dari diklat itu adalah ke PT. Indocement, Cibinong. Di sini pohon jarak digunakan sebagai upaya untuk revegetasi perusahaan terhadap lahan bekas tambang. Lahan bekas tambang quarry adalah lahan yang sulit direvegetasi, karena berbeda dengan tambang logam atau batubara, di lahan quarry sedikit sekali atau bahkan tidak ada tanah pucuk sehingga akar tanaman yang akan ditanam kurang dapat melakukan penetrasi. Di tempat ini juga kami mendapat paparan tentang kegiatan Corporate Social Responsibility perusahaan yang menggunakan sampah sebagai campuran bahan bakar untuk proses produksi.
|
| Category: | Movies | | Genre: | Action & Adventure |
Debut Guy Ritchie menyutradarai sebuah film adaptasi. Sherlock Holmes, sebuah novel karya Arthur Conan Doyle menjadi karyanya di penghujung tahun 2009 kemarin. Sebuah novel detektif yang oleh Ritchie diinterpretasikan secara berbeda dari yang biasa dilakukan oleh pembuat film lainnya. Gaya Ritchie jelas terlihat, narasi diri dari Sherlock sebelum aksi baku pukul mengingatkan narasi serupa yang dilakukan Turkish di adegan pembuka Snatch. Namun, gaya khas dari sutradara yang disleksik pada masa kecilnya ini seperti terkompromi dalam film ini. Plot yang ada cenderung lurus, walau terkadang maju atau mundur, namun tidak sekompleks Lock, Stock atau Snatch. Ceritanya sendiri berputar di sekitar upaya Sherlock untuk membongkar misteri seputar tindakan Lord Blackwood yang telah membunuh 5 orang wanita. Lord Blackwood meminta untuk bertemu Sherlock sebagai permintaan terakhir dan member peringatan akan kejahatan yang akan terjadi di masa datang. Dan memang konspirasi dan kejadian di film ini bercerita tentang misteri kejahatan Lord Blackwood, pencarian Irene terhadap Reardon, dan konspirasi tingkat tinggi di organisasi freemasonry. Penggambaran era industri Inggris dilambangkan dengan setting waktu di saat Tower Bridge of London sedang dibangun. Dan setting di jembatan ini pula yang menjadi setting akhir film ini. Untuk penonton yang mempunyai ekspektasi “Sherlock” akan mempunyai plot kompleks seperti yang telah dilakukan Ritchie di Snatch dan Lock, Stock, and Two Smoking Barrel mungkin agak kecewa. Tapi film ini masih berbeda dari kebanyakan film mainstream.
    | Whip It | Jan 7, '10 2:46 AM for everyone |
 | Category: | Movies | | Genre: | Sports |
Drew Barrymore bener-bener suka Roller Derby kayaknya. Sebagai sport fan yang gak ngerti babar blas soal roller derby, nonton film ini bikin saya ngerti. Dan guess what, bisa ngebayangin excitementnya main roller derby.
Debut Drew Barrymore sebagai sutradara cukup bagus menurut saya. Dan aktor yang dipasang cukup mendukung. Juliette Lewis jadi villain yang manusiawi, maksudnya gak totally jahat (dan sialnya kok ngingetin saya sama posisi saya sendiri yah), ada latar yang menyebabkan dia gak suka sama Bliss, sang anak kecil yang suddenly jadi bintang di roller derby.
Kemudian tentang Pash, yang bareng dengan Bliss berusaha keluar dari Bodeen dan mencicipi kehidupan kota yang (seharusnya tidak membosankan). Jangan harap cerita film ini berlapis-lapis kayak film lainnya, ini film yang menurut saya masuk genre "sport entry description", seperti "Flying Scottsman" buat track cycling, dan "Quicksilver" buat bike messenger. Cerita cuma jadi tempelan, Drew Barrymore cuma pingin nyebar racun roller derby.
Lainnya, ceritanya sih standar lah, about believing something and to go for it even if your parents talk you out of it.  |  | Hari sabtu kemarin kita mencoba menjalani lagi objek yang ada di buku Wisata Bumi Cekungan Bandung. Rute yang dipiliih adalah Geotrek IX. Seharusnya rute ini menyusur dari timur kota di Kendan, hingga selatan di Situ Cileunca. Tapi berhubung keterbatasan waktu perjalanan hari Sabtu kemarin hanya mendatangi objek di gunung Puntang, Perkebunan teh Bosscha, Situ Cileunca dan (bekas) Rumah Jerman di Cukul saja.
|
|  | Memanfaatkan sisa hari disela-sela tugas, jalan-jalan dikit di Sawahlunto. Sawahlunto adalah kota dengan penduduk 52.457 jiwa dan luas 5,86 km2. Terletak di 95 km sebelah timur ibu kota Sumatera Barat, Padang.
Sejarah Sawahlunto dimulai saat geologis Belanda W.H. Greve membuat studi tentang cadangan batubara secara rinci pada tahun 1868.
Ditemukannya batubara yang berada pada daerah dataran sempit yang dikelilingi bukit ini menarik manusia untuk menambangnya. Hal ini pula mengapa peninggalan sejarah kolonial Belanda banyak terdapat dan masih terpelihara dengan relatif baik.
Area pusat kota Sawahlunto menjadi pusat hiburan, perdagangan, dan perkantoran. Wisatawan yang datang di kota ini akan disambut dengan daerah Pasar Remaja. Pasar ini mempunyai hari pasaran senin dan kamis. Pada hari-hari itu, pasar lebih ramai dari hari lainnya karena pedagang yang datang lebih banyak dari hari lainnya.
Di sekitar area Pasar Remaja ini terdapat sebuah gedung yang dibangun pada tahun 1917. Agak ke utara sedikit ada rumah Pek Sin Kek yang sedikit lebih tua dari Gedung BRI.
Rumah Pek Sin Kek ini sangat mudah terlewat oleh wisatawan karena letaknya yang langsung di pinggir jalan, tanpa sempadan. Untuk dapat melihatnya, berjalanlah di sisi kanan jalan raya sehingga kita berada di seberang jalan Rumah Pek Sin Kek.
Di ujung utara blok ini ada Gedung Koperasi PT. BA UPO. Toko ini dahulunya menyuplai kebutuhan untuk orang Eropa dan Indo Eropa, sementara untuk orang pribumi dilayani di Pasar Remaja. Di ujung utara blok ini juga, di sudut yang lain ada gereja Santa Lucia yang memiliki sebuah sekolah juga.
Sedikit ke sebelah utara kita bisa menjumpai wisma Ombilin dan Gedung Societeit |
|  | Rudy Radian, one of Indonesian pioneer downhiller, took part of 4th series of Indonesian motorsport. Racing for Bintang Sobo, CK Motorsport, he took part on Promotion Jazz Class, racing One Make Race and GT Car Championship. |
| |